Saturday, September 25, 2010

Sepenggal Kisah Lebaran 1431 H

Idul Fitri merupakan hari yang penuh kenangan bagi hampir semua umat muslim di dunia. Begitu juga dengan diriku, lebaran selalu berkesan di hati. Terlebih bagi para pemudik yang bisa berkumpul dengan keluarga di kampung halaman. Kisah ini akan langsung saya mulai dari hari-hari terakhir Ramadhan.

Hari-hari terakhir Ramadhan 1431 H kampung halamanku sudah dipenuhi para pemudik. Begitu juga dengan rumah mbah yang kebetulan bersambungan dengan rumah orang tuaku, sudah didatangi 2 keluarga dari Jakarta. H-3 lebaran jumlah anggota keluarga di rumah sudah 11 orang. Sementara 5 keluarga yang lain masih di perjalanan. Ini merupakan keluarga dari bapak. Semuanya 7 bersaudara.

H-3 lebaran saya, bapak dan ibu pergi ke rumah bude di Sleman. Orang tua ibu sudah meninggal semua. Kini setelah orangtua tidak ada, saudara ibu kalau lebaran jarang mudik, gantian ibu yang sowan ke rumah kakak- kakaknya. Ibuk anak ke-9 dari 9 bersaudara. Ibu juga merupakan anak kembar. Empat saudara dari ibu merantau ke Bandung, 2 Jakarta, 1 Sleman, dan 2 di rumah.Ibu tidak bisa sungkem ke Bandung dan Jakarta, kali ini hanya bisa ke Sleman.Perjalanan ke Sleman diiringi hujan deras. Mobil tua bapak sempat mogok gara – gara hujan. Terpaksa saya dan Pak Saniyo (pakde saya ) mendorong mobil sambil hujan – hujanan. Selain itu arus lalu lintas mulai ramai, untungnya arah ke barat tidak begitu ramai. Di Sleman, kami bisa bertemu pakde, bude, dan adik – adik ponakan. Alhamdullilah sekitar pukul 11 malam kami sampai di rumah dengan selamat.

Gambar 1. Sania, Memei, Calista

H-2 sebelum lebaran rema masjid mengadakan persiapan takbir keliling dan juga pembagian zakat fitrah. Persiapan takbir keliling dilakukan di luar masjid, sementara zakat fitrah dilakukan di masjid. Panitia dibagi 2, satu mengurusi persiapan takbir dan satunya zakat fitrah. Posko zakat fitrah sudah dibuka sejak 2 hari sebelumnya dan akan dibagiakan pada hari itu. Pagi hari saya indang-indang ke rumah Dek Didik, tempat persiapan takbir. Saya hanya sebentar di sana kemudian saya ke masjid yang sedang aktivitas penerimaan zakat fitrah. Sorenya ngaji bersama anak – anak di masjid.

Gambar 2. Para amil sedang menimbang बरस


Gambar 3. Beras siap dibagikan


Gambar 4. Santri – santri bermain dan jajan di halaman masjid


H-1, sejak pagi hari, kami ( khususnya anggota keluarga perempuan ) beraktivitas di dapur untuk mempersiapkan makanan berbuka puasa dan tumpeng untuk kenduri menjelang lebaran. Hari itu kami masak sayur lombok, gudangan, opor, dan ketupat. Tentunya kami memasak dalam jumlah porsi besar karena untuk mencukupi kebutuhan banyak orang. Menjelang asar kami selesai masak. Kegiatanku adalah persiapan takbir keliling.

Ba’da isya, saya berangkat ke masjid. Sesampainya di sana, peserta takbir keliling sudah berkumpul dan mulai naik truk dan kol grumpung (mobil pick up). Saya terlebih dulu ngampiri teman ( Mbak Yuli ). Saya berdua lalu menyusul ke lapangan Ponjong. Rombongan kami termasuk rombongan yang awal datang. Kami mendapat nomor undian 2 ( sesuai kedatangan ). Rombongan lain terus berdatangan menyusul di sebelah barisan kami. Tak lama kemudian, Pak Camat membuka acara ini. Rombongan pertama kemudian diberangkatkan disusul rombongan kami. Saya ikut berjalan di barisan paling akhir sambil membawa lilin. Rute yang kami lewati lapangan ponjong-tugu pasar-bidan sur-balai kerjo-proliman-polsek-tugu pasar-finish di lapangan. Seusai takbir keliling, rombongan kami lalu pulang naik truk dan kol grumpung.

Peserta lomba takbir keliling sungguh kreatif. Ada yang membuat miniatur masjid, ka’bah, tulisan arab, dll. Selain itu lampion – lampion dengan aneka bentuk, memberi cahaya di malam takbiran itu. Menurut saya, rombongan yang barisannya rapi, gerakan bagus, miniatur bagus adalah dari masjid Simo. Lampion dari masjid Bugel Padangan juga unik. Sementara masjidku?hehe..tidak sebagus peserta lain.Tapi tak apalah sebagai penggembira.


Gambar 5. Suasana Takbir keliling


Gambar 6. Suasana Takbir keliling

Hari lebaran, sejak habis subuh sebagian dari kami masak di dapur. (O ya tengah malam tadi, adik bapak yang ke-6 bersama keluarganya datang setelah 2 hari terjebak macet di jalan. Jadi hingga di pagi hari lebaran jumlah anggota keluarga di rumah sudah 18 orang). Sementara sebagian dari kami memasak di dapur, anggota keluarga yang lain bergantian antri mandi. Entah mengapa walaupun kamar mandi sudah ada 3 namun kami semua baru bisa berangkat solat Id pukul 06.35. Tak lupa kami membawa tikar untuk jaga-jaga kalau tikar di masjid tidak cukup. Ternyata benar, tikar dari masjid tidak cukup. Jamaah melimpah ruah hingga ke luar pagar masjid/jalan.

Seusai solat, kami sekeluarga berkumpul di rumah mbah. Mbah kakung dan mbah putri duduk di kursi, sementara anak dan cucu-cucunya satu persatu bersimpuh sambil bersalaman mohon maaf lahir batin. Saya dan bapak ibu tentunya tidak ketinggalan dan tak lupa saya juga mohon maaf kepada bapak ibu.

Acara sungkem selesai dilanjutkan foto-foto bersama keluarga. Namun sayang anak mbah belum semua datang. Kami lalu makan bersama, menunya tentu special. Ketupat dan opor ayam.Hemm..Selesai makan kami mempersiapkan hidangan di ruang tamu karena pasti akan banyak orang berkunjung saat lebaran. Setelah semua beres, kami bersama – sama pergi ke makam kakek, nenek, dan saudara – saudara yang telah meninggal. Sepulang dari makam, saya muter ke rumah saudara dari ibu, mulai dari Wirik, Blimbing, Silingi, Tanggulangin, dan Ngrombo. Saudara di daerah Ngrombo banyak juga yang nasrani. Namun kami tetap menjalin hubungan baik. Layaknya seorang anak yang sudah tidak punya orang tua, ibu sungkem kepada sesepuh di Nggrombo. Sampai di rumah sudah banyak saudara dan tetangga yang datang. Saya mondar-mandir dari rumah mbah dan rumah saya yang berdampingan untuk membuatkan minum tamu. Aktivitas itu berlanjut hingga malam harinya.

Gambar 7

H+2 lebaran, jumlah anggota keluarga di rumah mencapai puncaknya, yaitu 38 orang. Tentunya kami selalu sibuk di dapur untuk mencukupi kebutuhan makan keluarga dan juga untuk tamu luar yang datang. Seharian saya di rumah membantu mbah dan ibu buat minum dan masak. Namun yang paling berkesan adalah, saya bisa kumpul bareng saudara-saudara yang biasanya hanya datang setahun sekali. Apalagi bisa bermain dengan adik-adik ponakan yang lucu-lucu. Mulai dari main badminton, gamelan, petasan, mancing ikan, jalan-jalan ke sawah, mainan api di tungku dapur, bakar-bakaran daun, sampai guling-gulingan di lantai. Sorenya saya diundang ke rumah teman SMP di daerah Blarangan. Ceritanya mau ngajak reuni, tapi yang datang hanya 5 orang. Padahal orangtua Sulis sudah masak untuk kita.






Seusai dari rumah Sulis saya punya keinginan mendatangi teman – teman yang tidak bisa datang. Terutama teman-teman yang sudah lama tidak bertemu dengan saya dan kebetulan pas lebaran ini mudik. Akhirnya saya, Mutia, dan saudaranya pergi ke rumah Way. Sahabatku yang telah lama menghilang. Karena lama tidak ke sana, akhirnya ketemu juga rumahnya. Alhamdlh tidak kesasar. Seusai ketemu Way, saya melanjutkan perjalan ke rumah Tuti di Trenggono. Kebetulan dia sudah pulang dari merangtau ke Malaysia dan Jakarta. Namun sayang sesampainya di sana, Tuti tidak ada di rumah. Saya lalu melanjutkan perjalanan ke rumah Sri. Temanku SMP yang sekarang juga merantau ke Jakarta. Alhamdlh bisa bertemu dengannya. Dari rumah Sri, saya mampir ke rumah Susi. Teman seperjuangan OSIS saat SMP. Saya juga bisa ketemu adiknya.Dulu adik Susi masih kecil terus suka ngajak main dan jailin saya kalau pas lagi main ke rumahnya. E..sekarang sudah besar..hehe. Malu-malu dia ketemu saya..Saya lalu melanjutkan perjalanan sungkem ke rumah Pak Jan (Pembina Pramuka SMP). Kunjungan ke rumah Pak Jan menutup acara muter- muter di sore itu. Lets go home.

H+3 lebaran, saya ikut acara reuni SMA di Simo. Dari jadwal yang ditentukan pukul 1 siang, akhirnya molor menjadi pukul setengah 4 sore. Mungkin hujan deras diwaktu itu menghalangi kedatangan teman-teman. Akhirnya sekitar 55 orang datang dalam acara ini. Walaupun tidak datang semua,namun acara kali ini cukup menarik. Sie acara mengadakan berbagai permainan, diantaranya permainan cerdas cermat ingat2 jaman sma. Pertanyaannya pun seputar kenangan masa sama. Misal, ada berapa jumlah kantin di belakang sekolah?Siapa guru yang wangi?dll. Selain itu juga ada permainan lipsing song. Selesai acara reuni, kami pun pulang diiringi dengan hujan gerimis. Wah mungkin langit menangis karena kita berpisah lagi..hihi. Sesampainya di rumah, saya menghabiskan waktu dengan berkumpul bersama keluarga. Maklum esok hari, satu-persatu mereka akan kembali pulang ke Jakarta.


H+4 lebaran, satu persatu saudara-saudara saya pulang ke perantauan. Namun masih ada yang tinggal beberapa hari lagi. Kepergian mereka menyisakan kesedihan di hati ini. Kebersamaan bersama keluarga harus kembali dipisahkan oleh jarak Jakarta-Jogja dan juga waktu yang hanya bisa kumpul 1-2x dalam 1 tahun. Senangnya, asyik dapat THR…^.^

Akhirnya waktu berpisah dengan semua saudara tiba. Kini mereka semua telah meninggalkan kampung halaman, kembali ke perantauan. Rumah kembali sepi. Kampung kembali sepi. Tidak ada lagi mobil berseliweran di jalanan kampung. Tidak ada lagi kembang api meramaikan langit kampung yang biasanya gelap. Mbah kakung dan mbah putri hidup berdua kembali. Bapak ibu juga kecuali kalau pas saya mudik di akhir pekan.

Lebaran, sebuah perayaan yang telah diwarnai dengan banyak suka-duka dan berbagai tradisi masyarakat Indonesia. Mulai dari menggadaikan barang, cari utangan, antri tiket, beli pakaian baru, buat berbagai kue dan makanan khas, mengepak barang di koper, menitipkan keamanan rumah, was – was rumah di maling, tidak kebagian tempat duduk di kendaraan umum, bergelantungan di gerbong, mudik naik motor, kecopetan, jadi korban hipnotis, kendaraan telat, jalanan macet, bisa bertemu keluarga di kampung halaman, bersih-bersih rumah karena saudara-saudara mau datang, ke makam, sungkem keliling kampung, syawalan, reuni, cuti kerja, bolos kerja, sampai ada yang yang menjadi korban jiwa. Momentum besar layak kita ambil dari lebaran yang telah diwarnai dengan pengorbanan, suka, duka, pernak-pernik yang paling ramai dan unik di dunia. Mulai dari kebersamaan bersama saudara, berbakti kepada orangtua, menghargai perbedaan, dan tentunya lebih dekat kepada Tuhan. Saya manusia yang jauh dari sempurna. Banyak salah dalam bertindak. Namun semoga hikmah lebaran bisa merasuk ke dalam sanubari. Amin..

Saturday, September 4, 2010

Surga

hatiku berharap ke surga
diriku dambakan surga

mataku rindu melihatnya
telingaku ingin mendengar nyanyian di sana
namun sayang kuhanya manusia hina

Friday, August 27, 2010

Keliling Praci

Hari Rabu, 25 Agustus kemarin merupakan hari yang cukup berkesan bagiku. Aku diberi kesempatan menikmati keindahan daerah Pracimantoro ( salah satu kecamatan di Kabupaten Wonogiri, Jawa Tengah ). Meskipun terletak tidak jauh dari tempat saya tingal, namun baru kali ini aku dapat berkeliling Praci, mengunjungi tempat yang istimewa.

Dini hari, ketika kami sekeluarga sedang menikmati makan sahur, sebuah pesan masuk ke dalam kotak inbox handphoneku. Selesai makan sahur, segera kubuka pesan yang masuk. Ternyata sms dari Oktri, temanku yang paling ganteng di kelasku ( maklum cowoknya hanya satu ). Pesan itu berisi kabar bahwa dia akan mampir ke rumahku dan sekaligus akan mengajakku main ke rumahnya di Praci. Maklum sudah berkali – kali aku berhalangan untuk berkunjung ke rumahnya.


Seusai sahur dan salat subuh, aku melakukan kegiatan mencuci piring, menyapu lantai rumah, dan mencuci baju. Semua aktivitas itu saya lakukan lebih awal dari biasanya karena takut Oktri keburu datang sebelum semua pekerjaan rumah selesai. Pukul 8 pagi, semua sudah beres. Namun Oktri belum juga datang, padahal di dalam smsnya tadi, dia bilang akan datang sekitar jam 8. Akhirnya saya menyalakan televisi dan menonton salah satu program Trans TV. Kalau tidak salah Rangking 1.


Setelah 2 jam kemudian atau sekitar pukul 10.00, Oktri datang. Ternyata dia ketiduran sehingga telat datang. Aku lalu berkemas, namun sebelum kami berangkat, Oktri mengambil beberapa bibit tanaman di sekitar pekarangan rumahku. Maklum, Oktri adalah pecinta tanaman. Di manapun berada, dia akan mengambil bibit tanaman untuk di tanam di rumahnya. Aku salut juga kepada Oktri. Jaman sekarang, jarang anak muda yang punya hobi menanam tanaman. Dia ikut andil dalam hal penghijauan, mengurangi pemanasan global.


Oktri asyik mencari tanaman di depan rumah. Saya tak lupa memberitahu mbah putrid kalau Oktri datang. Mbah putri senang kalau Oktri datang. Katanya enak diajak ngobrol dan orangnya lucu. Selain itu ternyata masih ada hubungan keluarga juga antara mbah saya dengan mbah Oktri. Mbah putrid langsung bergegas ketika kuberitahu kalau Oktri datang. Mbah Putri lalu menemui Oktri di depan rumah ketika di sedang memetik tanaman menjangan.


Oktri lalu menyalami mbah putri dan mengobrol sejenak. Tak berapa lama, kami berpamitan karena takut kesiangan. Kami lalu berangkat menuju Praci. Aku membonceng Oktri. Hal yang termasuk jarang aku lakukan dengan laki – laki lain ( maklum lama menjomblo, hhehe ). Motor Beat melaju menuju Praci. Namun sebelumnya, kami mampir dulu ke objek wisata Gunung Kendil. Oktri ingin mampir karena belum pernah ke sana.


Gambar 1. Objek Wisata Gunung Kendil


Sesampainya di Gunung Kendil, suasana sepi. Hanya terlihat satu orang penjaga yang sedang bekerja di masjid. Kami lalu membeli tiket masuk. Harga tiket masuk untuk satu orang Rp 1000. Kami lalu menuju sumber mata air. Objek wisata Gunung Kendil terletak tidak jauh di sebelah timur kantor Kecamatan Ponjong. Objek ini merupakan mata air di atas bukit. Air ini kemudian digunakan untuk mengairi kolam renang yang dibangun di atas bukit ini . Selain itu air ini dapat digunakan untuk terapi berbagai penyakit.


Aku duduk di tempat duduk tepi kolam sambil menikmati pemandangan indah dari atas bukit. Oktri tentu saja mengambil gambar pemandangan dengan kamera handphonenya. O, ya, hobi Oktri yang kedua memang memotret berbagai peristiwa yang dia lalui. Dimanapun, kapanpun dan siapapun ( peace Oktri, hehe ). Tak bisa dihindari, akhirnya aku kena potret juga. Setelah puas menikmati keindahan Gunung Kendil, kamipun melanjutkan perjalanan menuju Praci.


Rute yang kami lewati adalah melalui jalan Kuwon – Jaten. Jalan yang kami lalui sudah beraspal namun aspalnya sudah rusak. Lubang – lubang jalan ada di mana – mana. Setelah melewati jalan rusak, akhirnya kami sampai di jalan raya Ponjong - Bedoyo. Jalan ini halus, belum begitu banyak kerusakan yang terjadi. Lima belas menit kemudian kami sampai di Kawasan Museum Kars Dunia yang terletak di kecamatan Pracimantoro. Oktri terlebih dahulu membeli tiket untuk kami berdua. Tiketnya cukup murah, berdua Rp 1500. Setelah membeli tiket, Oktri memarkir motor. Dari parkiran, terlihat gedung museum yang megah di tengah hamparan bukit – bukit kapur. Sungguh indah.



Gambar 2. Museum Karst Dunia


Oktri ternyata tidak langsung mengajakku ke museum itu. Dia mengajakku ke Gua Tembus dahulu. Kami lalu berjalan menuju mulut belakang gua. Sesampainya di sana, kami mengambil gambar dahulu. Saya disuruh Oktri untuk diambil gambarnya di depan mulut gua. Malu juga difoto, tapi ya….akhirnya foto juga, hihi.

Gambar 3. Mulut belakang Gua Tembus


Setelah mengambil gambar di mulut gua, Oktri lalu mengajak saya masuk ke dalam gua. Kesan pertama yang saya alami adalah gelap. Beberapa langkah masuk ke dalam gua, aku takut dan kembali ke luar gua. Oktri menertawakan saya. Dia bilang bahwa nanti ada lampunya di dalam gua, selain itu katanya jaraknya hanya dekat dengan mulut bagian depan. Saya menyakinkan hati, membuang rasa takut yang masih menggelanyut. Aku lalu masuk ke dalam gua. Di dalam gua, ternyata memang ada lampu tapi tidak terlalu terang. Hal yang cukup melegakan, kami sudah sampai di mulut gua bagian depan. Ternyata jaraknya memang dekat antara tembusan mulut belakang dengan mulut bagian depan gua.

Gambar 4. Mulut bagian depan Gua Tembus


Setelah menyusuri Gua Tembus, kami lalu melanjutkan perjalanan. Objek kedua yang kami kunjungi adalah gedung Museum Karst Dunia. Dari kejauhan, gedung ini sudah terlihat megah dan ketika dekat ternyata semakin indah. Saya sempat membaca papan peresmian gedung di depan museum oleh Presiden Susilo Bambang Yudhoyono. Tak lupa kami mengambil gambar di depan museum. Dan lagi – lagi saya jadi modelnya.^_^

Gambar 5 a


Gambar 5 b

Gambar 5 c


Gambar 5 d

Gambar 5 (a-d) Bagian depan Museum Karst Dunia


Kami berdua masuk ke dalam museum. Seorang satpam dengan ramah menyambut kedatangan kami. Setelah menyerahkan tiket masuk, kami dipersilakan masuk ke dalam museum mengikuti arah panah yang ada. Saya sungguh kagum. Suasana di dalam sunguh nyaman. Berbagai koleksi museum yang ditampilkan tertata rapi. Saya lalu berjalan untuk menyusuri dan melihat koleksi museum yang indah dan penuh ilmu pengetahuan, khususnya tentang dunia karst.


Gambar 6a Gambar 6b


Kami menjumpai model stalagtit dan stalagmit gua di bagian dalam museum. Model tersebut terpajang di bagian depan ruang museum. Kami lalu berjalan ke museum sayap barat. Di sana terpampang peta daerah karst di Indonesia yang disertai dengan lampu – lampu indah sebagai petunjuk dan alat penerang. Di lantai 2 in juga dijumpai berbagai insektarium kupu – kupu, kelelawar dan hewan lain. Setelah puas berkeliling, kami melanjutkan perlajanan ke lantai 2.

Bagian museum di lantai 2 ini banyak dijumpai model batuan karst yang berukuran besar. Ada tiruan gua karst di sana. Saya sempat kaget ketika menjumpai seorang laki - laki tanpa busana sedang duduk di dalam gua. Ternyata orang itu hanyalah patung tiruan. Oktri menertawakan saya karena kejadian itu.


Gambar 6c Gambar 6d



Gambar 6e Gambar 6d



Gambar 6e Gambar 6f




Gambar 6g



Gambar 6h


Gambar 6. Bagian dalam Museum Karst Dunia


Pukul 11.15 kami keluar dari museum. Oktri lalu mengajak saya melanjutkan perjalanan. Oktri mengajak saya menuju pura di atas bukit. Kami sempat ragu saat akan ke sana. Maklum jalan menuju pura mendaki dan curam. Saya takut tidak kuat karena sedang berpuasa, lama tidak berolahraga, dan matahari hampir tepat di atas kepala. Lagi – lagi Oktri berhasil meyakinkan saya. “Sayang lho Mbak kalalu sudah sampai sini tapi tidak ke pura”, ucapan Oktri saat itu. Akhirnya saya meyakinkan niat untuk pergi ke pura.


Jalan menuju pura mendaki tajam. Jalannya dibuat undakan dari semen. Baru seperempat perjalanan, saya sudah nggos-nggosan. Saya berhenti sebentar, mengatur nafas dan mencoba melangkahkan kaki kembali. Ketika sudah lebih dari setengah perjalanan, nafas sudah terdengar tidak karuan. Ingin rasanya saya berhenti di situ, namun Oktri terus member semangat. “Mbak ayo sedikit lagi kita sampai, nanti kita bisa istirahat di atas. Kita akan terasa semakin lemah kalau berhenti.”


Gambar 7. Jalan menuju pura


Perjuangan saya akhirnya berhasil juga. Kami berhasil mencapai puncak bukit. Saya duduk di bawah pohon, melepas lelah. Seiring sepoi angin, deru nafas mulai teratur. Dahaga dan pening kepala mulai menghilang. Setelah keadaan membaik, kami berjalan menuju pura. Pura yang ada di atas bukit ini kurang lebih berjumlah 5 buah. Tiga buah berukuran besar sedang yang lain berukuran kecil. Pura ini digunakan sebagai tempat ibadah umat hindu yang berada di daerah Praci dan sekitarnya.


Gambar 8a



Gambar 8b



Gambar 8c



Gambar 8d


Gambar 8. Pura Pracimantoro


Seusai menikmati keindahan pura dan pemandangan di atas bukit, Oktri lalu mengajakku menuju gua. Namun saya menolak karena jujur sudah tidak kuat lagi. Akhirnya kami menuruni bukit. Sesampainya di bawah ternyata Oktri mengajak saya mampir ke gua lain yang tidak jauh dari situ. Kata Oktri tidak jauh, akhirnya saya ke sana juga. Benar, letaknya tidak jauh. Selain itu ada sumber air di dalam gua. Saat kami ke sana, ada seorang ibu dan anak kecil sedang mencuci pakaian di dalam gua. Oktri akhirnya menunggu di luar gua, saya sendiri masuk ke dalam gua. Saya menyapa ibu tersebut. Menurut beliau memang benar gua tersebut sering digunakan untuk mencuci dan mandi. Ada mata air namun terletak di bagian dalam gua. Saya menengok ke arah yang ditunjuk ibu tersebut. Hanya gelap yang terlihat. O ya di dalam gua itu, banyak sekali dijumpai sampah plastik detergen. Sayang juga gua itu jadi kotor. Saya lalu kembali ke luar gua, tak lupa saya berpamitan kepada ibu tersebut.


Kami berdua lalu berjalan menuju parkiran motor. Tempat selanjutnya yang kami tuju adalah rumah Oktri. Rumah Oktri terletak di jantung kota Praci,lebih tepatnya di depan terminal bus Praci. Sesampainya di sana, saya disambut hangat oleh ibunda Oktri. Setelah itu saya mengambil air wudhu. Airnya segar dan dingin, sangat nikmat dibasuhkan ketika wudhu, apalagi setelah menempuh perjalanan di siang yang terik ini. Saya kemudian menunaikan solat duhur.


Setelah solat duhur, Oktri mengajak saya duduk istirahat di ruang aula rumahnya. Rumah Oktri luas dan bangunannya masih arsitektur jaman dahulu. Ada halaman dengan atap terbuka di bagian tengah rumah. Di tempat itu Oktri menempatkan berbagai pot dengan bunga yang bermacam – macam. Selain itu, kegiatan menjemur pakaian dilakukan di tempat itu.


Setelah cukup lama duduk beristirahat, Oktri mengajak saya melihat tamannya yang breada di samping rumah. Sebelum menuju taman, saya bertemu dengan ayah Oktri. Sayapun bersalaman dan mengobrol sejenak. Alhamdullilah ayah Oktri sudah bisa berjalan dan kesehatannya mulai membaik. Jauh berbeda dengan keadaan beberapa bulan yang lalu, ketika beliau dirawat di rumah sakit.


Kami lalu menuju taman Oktri yang ada di samping rumahnya. Saya senang diajak ke taman itu. Berbagai tanaman tumbuh dengan subur di taman itu dan itu semua adalah hasil karya Oktri. Dia lalu menunjukkan berbagai tanaman koleksinya lengkap dengan nama, waktu menanam, dan asalnya. Setelah melihat berbagai tanaman, kami lalu duduk di bangku kayu yang ada di bawah pohon alpukat. Enak juga duduk di sana. Sejuk karena rindang pohon.


Sekitar pukul 1 siang, kami melanjutkan perjalanan ke rumah Enri. Enri adalah teman kuliah kami. Rumahnya sekitar 7 km di sebelah timur rumah Oktri. Tepatnya terletak di daerah Giritontro. Kami menuju rumah Enri, melewati jalan aspal yang penuh tambalan dan bergelombang. Akhirnya kami sampai di rumah Enri. Untungnya Enri ada di rumah. Kamipun melepas lelah sambil mengobrol dan menukar fili – filel lagu islami di sana. Tak ketinggalan Oktri meminta bibit tanaman di rumah Enri. Pukul 3 kurang seperempat, kami berpamitan pulang. Saya takut kalau pulang kesorean.


Sesampainya di perempatan Praci, saya melihat bus yang akan saya tumpangi baru ngetem. Saya ke rumah Oktri dulu untuk mengambil mantol dan berpamitan kepada keluarga Oktri. Oktri lalu mengantar saya ke tempat pemberhentian bus. Namun sesampainya di sana, busnya sudah berangkat. Kami bertanya kepada seorang bapak, bus selanjutnya akan datang pukul setengah empat. Akhirnya saya menyuruh Oktri pulang dan saya akan menunggu bus.


Saya duduk sendirian di pinggir perempatan Praci. Sambil menunggu bus, saya mengamati berbagai keadaan di sana. Arus lalu lintas cukup ramai. Kota Praci menghubungkan berbagai daerah seperti Wonogiri, Wonosari, dan Pacitan. Tak jauh dari tempat saya duduk, ada seorang bapak yang sedang mengerjakan pesanan kunci. Beliau membuka jasa servis/juru kunci tepat di sebelah barat perempatan. Tak berapa lama, ada seorang bapak tukang becak menuju gardu yang tak jauh dari tempat saya duduk. Ia membuka barang yang ada di gardu tersebut. Ternyata itu adalah es batu balok. Bapak tersebut lalu mengangkut es tersebut dengan menggunakan becak. Entah es tersebut digunakan untuk minuman atau pengawet ikan.


Waktu terus bergulir. Waktu telah menunjukkan pukul 15.40. Bus yang saya tunggu tidak datang juga. Ketika saya menunggu bus, Oktri tak henti – hentinya menanyakan kabar sudah dapat bus atau belum. Dia akan mengantar saya ke Bedoyo kalau sampai jam 4 tidak dapt bus. Saya tidak enak dengan Oktri. Kasihan jika harus mengantar saya ke Bedoyo.


Bus yang saya tunggu tak kunjung datang. Padahal waktu sudah menunjukkan pukul 4 sore. Oktri sms menanyakan saya sudah dapat bus apa belum. Saya bingung mau membalas bagaimana. Kalau saya jawab belum dapat bus, dia pasti datang dan akan mengantarkan saya ke Bedoyo. Saya tidak enak sudah ngrepoto dia terus. Saya juga takut mengganggu aktivitasnya mengajar TPA. Namun kalau kujawab tidak, saya takut tidak dapat bus dan pulang kemalaman atau bahkan tidak bisa pulang. Akhirnya saya menjawab jujur kalau bus belum datang.


Pukul 4 lebih 10 menit, Oktri datang. Dia sudah siap mengantarkan saya ke Bedoyo. Namun saya masih ragu dan tidak enak merepotkkan Oktri terus. Tapi akhirnya Oktri mengantar saya ke Bedoyo. Di Bedoyo nanati, saya akan dijemput bapak. Goob bye Praci….Thanks to Oktri + family and Enri…

~~~~~^^^~~~~~

Friday, August 13, 2010

Oase Ramadhan

Gambar. OASE
( http://akusukamenulis.wordpress.com/2009/11/21/bagiku-ia-adalah-oase/ )

OASE RAMADHAN

bercaping kasih teduhkan gundah
mendayu salah tebarkan resah
padang dosa nan menghampar tinggi
teraliri sejuk oase maaf dari hati

Marhaban yaa Ramadhan

( Cahyani E.R.)
Gunungkidul, Penghujung Sya'ban