Friday, August 13, 2010

Ramadhan

Bulan suci penuh berkah telah tiba. Segenap umat muslim bahagia, termasuk diriku yang mendambakannya. Nuansa syahdu menemani awal puasa ini. Dimulai dengan bersuci diri ( cukup di rumah ) meskipun teman lain beramai - ramai ke tempat pemandian, seperti beton, gunungkendil, pantai, sungai, dsb.

Malam Ramadhan diisi dengan solat taraweh di Masjid Al - Mustaqim di samping rumah. Jarak masjid dengan rumah cukp dekat,mungkin hanya 100 m. Ya, semoga tidak mengurangi pahala. Hehe..Kata Pak Ustad, semakin jauh kita berjalanke masjid, katanya pahalanya semakin banyak. Awal - awal bulan ramadhan, masjid penuh dengan jamaah. Jumlahnya banyak, sampai harus solat di luar masjid. Biasanya setelah solat isya atau setelah selesai solat taraweh ada kultum dari ustad - ustad lokal yan telah dijadwal untuk mengisi pengajian. Selesai solat taraweh, saya dan teman - teman rema tadarus al - quran dulu. Setelah itu makan sisa ta'jilan atau lotesan bareng. Humm..yummi..

Sahur adalah aktivitas rutin selama bulan ramadhan ini ( kecuali yang talah bangun, hihi ). Aku membantu ibu di dapur menyiapkan makan seadanya. Setelah itu, makan sahur bareng bersama bapak dan ibu. Oh nikmatnya...Kami lalu bersama - sama pergi solat subuh ke masjid. Setelah solay subuh, aku pulang ke rumah. Kalau pas lagi malas bisanya tidur lagi. Tapi kalau tidak malas, ya nyapu, nyuci, dll. Tapi aku banyak malasnya, hehe..

Sore hari ba'da asar, aku membantu ibu memasak di dapur. Menu masakan beberapa hari di awal Ramadhan kemarin di antarnaya sayur asem, sop rumput laut, ikan sarden, wader goreng, empal goreng, sambel terasi, sambel bawang, sambel terasi, tempe garit, krupuk, es dawet, es kelapa muda, jus apel, dll.

Awal ramdhan yang indah. Semoga hari - hari ke depan bisa kulaui dengan baik Amin..
Happy Ramadhan..

Sunday, August 8, 2010

Kabar dari Sang Kakek

Kulonuwun...
Kedatangan Sang Kakek siang itu membuat kami seisi keluarga terkejut. Bagaimana tidak, sang kakek yang sangat asing bagi kami, belum kenal sama sekali tiba - tiba membawa kabar yang sangat mengejutkan.
" Pak, Bu..alam marah!"
" Marah bagaimana Kek?"
" Sebentar lagi akan ada gempa besar! Kalau kalian tidak pasang tumbal, gempa akan datang."
" Jangan menakut - nakuti seperti itu Kek."
" Saya tidak menakut - nakuti, ini berita benar."

Beberapa jam kemudian setelah kakek tersebut tidak mampu membujuk kami untuk memasang tumbal maka kakek itupun berpamitan pulang.
" Ya sudah Pak kalau tidak percaya. Saya doakan di daerah ini banyak bencana tapi tetap selamat, " ujar kakek lesu.
" Wah ya jangan begitu Kek, kita berdoanya ya jangan diberi bencana."
" Terserah, sekarang saya minta uang untuk ongkos pulang Pak, " kakek membujuk.

Alhasil ternyata kakek tersebut adalah pengemis yang menyamar sebagai paranormal. Setelah diberi uang, ia pergi entah kemana.

Saturday, May 8, 2010

Wisata Ponjong

PROFIL KECAMATAN PONJONG

Kecamatan Ponjong merupakan salah satu kecamatan di Kabupaten Gunungkidul yang terletak di paling timur, dengan batas wilayah :

Utara : Kecamatan Semin

Timur : Kecamatan Wonogiri

Selatan : Kecamatan Rongkop

Barat : Kecamatan Semanu dan Kecamatan Karangmojo


Kecamatan Ponjong memiliki banyak tempat wisata. Khususnya wisata alam. Tempat - tempat wisata tersebut diantaranya :
1. Goa Lawa
Terletak di Desa Umbulrejo. Goa ini termasuk goa horisontal. Keindahan Goa Lawa patut diacungi jempol,namun seiring perusakan yang ada, keindahan Goa ini mulai pudar.


2. Bendungan Beton
Bendungan beton merupakan kumpulan air yang terbentuk menyerupai danau kecil akibat mata air yang dibendung. Mula - mula bendungan beton akan dimanfaatkan sebagai irigasi Desa Umbulrejo dan sekitar. Namun hingga saat ini Beton lebih berkembang sebagai objek wisata. Di Bendungan Beton dilengkapi adanya permainan flying fox, climbing, jembatan gantung, rumah makan ikan bakar, perahu bebek, pemancingan, dll.



Kumpulan Puisi Sapardi Djoko Damono

Kumpulan Puisi Sapardi Djoko Damono

Sajak Kecil tentang Cinta
Mencintai angin
harus menjadi siut
mencintai air
harus menjadi ricik
mencintai gunung
harus menjadi terjal
mencintai api
harus menjadi jilat
mencintai cakrawala
harus menebas jarak
mencintai-Mu
harus menjelma aku

aku ingin
(Sapardi Djoko Damono, 1989)

aku ingin mencintaimu dengan sederhana
dengan kata yang tak sempat diucapkan
kayu kepada api yang menjadikannya debu
aku ingin mencintaimu dengan sederhana
dengan isyarat yang tak sempat disampaikan
awan kepada hujan yang menjadikannya tiada.

Dalam Diriku
dalam diriku mengalir sungai panjang, darah namanya
dalam diriku menggenang telaga darah, sukma namanya
dalam diriku meriak gelombang sukma, hidup namanya
dan karena hidup itu indah, aku menangis sepuas-puasnya

Ketika Jari-jari Bunga Terbuka

Ketika jari-jari bunga terbuka
mendadak terasa
betapa sengit
cinta kita
Cahaya bagai kabut-kabut cahaya
di langit menyisih awan hari ini
di bumi meriak sepi yang purba
Ketika kemarau terasa ke bulu-bulu mata
Suatu pagi
di sayap kupu-kupu
di sayap warna
Suara burung di ranting-ranting cuaca
bulu-bulu cahaya
Betapa parah cinta kita
Mabuk berjalan
di antara jerit bunga-bunga rekah

Hujan Bulan Juni
tak ada yang lebih tabah dari hujan bulan Juni
dirahasiakannya rintik rindunya kepada pohon berbunga itu
tak ada yang lebih bijak dari hujan bulan Juni
dihapusnya jejak-jejak kakinya yang ragu-ragu di jalan itu
tak ada yang lebih arif dari hujan bulan Juni
dibiarkannya yang tak terucapkan diserap akar pohon bunga itu



Nokturno

Kubiarkan cahaya bintang memilikimu
Kubiarkan angin yang pucat dan tak habis-habisnya
Gelisah, tiba-tiba menjelma isyarat, merebutmu …
Entah kapan kau bisa kutangkap


Buat Ning
(Sapardi Djoko Damono-1967)

pasti datangkah semua yang ditunggu…
detik-detik berjajar pada mistar yang panjang…
barangkali tanpa salam terlebih dahulu
Januari mengeras di tembok itu juga
lalu Desember
musim pun masak sebelum menyala cakrawala
tiba-tiba kita bergegas pada jemputan itu


Hatiku Selembar Daun

Hatiku selembar daun
Melayang jatuh di rumput
Nanti dulu
Biarkan aku sejenak terbaring di sini
Ada yang masih ingin ku pandang
yang selama ini senantiasa luput
Sesaat adalah abadi
Sebelum kau sapu tamanmu setiap pagi


Hutan Kelabu

Hutan kelabu dalam hujan
Lalu kembali kusebut kaupun kekasihku
Langit dimana berakhir setiap pandangan
Bermula keperihan, rindu itu
Temaram temasa padaku semata
Memutih dari seribu warna
Hujan senandung dalam hutan
Lalu kelabu,mengabut nyanyian


Dalam Bis

Langit di kaca jendela bergoyang
Terarah ke mana
Wajah di kaca jendela yang dahulu juga
Mengecil dalam pesona
Sebermula adalah kata
Lalu perjalanan dari kota ke kota
Demikian cepat
Kita pun terperanjat
waktu henti ia tiada


Gadis Kecil

Ada gadis kecil diseberangkan gerimis
di tangan kanannya bergoyang payung
tangan kirinya mengibaskan tangis
di pinggir padang
ada pohon
dan seekor burung

Perilaku Burung Emprit

Perilaku Burung Emprit Menanggapi Rangsang Suara

Burung emprit atau sering disebut emprit bondol atau emprit sawah merupakan burung kecil yang banyak ditemukan di daerah persawahan. Burung ini adalah burung pemakan biji – bijian. Seperti burung lainnya, burung emprit juga menangggapi rangsang. Salah satunya adalah rangsang suara. Burung emprit menganggapi rangsang suara dengan bererilaku lebih aktif, ribut, melompat – lompat dan terbang.